
Pernah nggak sih kamu ngerasa sebel karena ada orang yang doyan banget numpang makan, tapi nggak pernah bawa apa-apa. Atau yang hadir tiap acara tapi kontribusinya nol besar.
Nah, keresahan kayak gitu ternyata nggak cuma kamu yang rasain banyak orang juga punya pengalaman serupa. Dan justru dari keresahan inilah, ide konten viral bisa lahir.
DEBM pernah mengangkat keresahan ini menjadi sebuah konten“Ide Menu Hemat Seminggu Tapi Numpang Terus”.
Awalnya sih sederhana, cuma tulisan tangan di secarik kertas. Tapi karena responsnya luar biasa, DEBM putuskan untuk bikin versi yang lebih “membahana” alias dicetak di spanduk. Hasilnya? Viral lagi dan bahkan lebih luas jangkauannya!.
Dari situ, DEBM menyadari satu hal penting dalam dunia konten. Bukan cuma idenya yang penting, tapi juga tampilannya dong. Itulah yang dinamakan teknik frame.
Lalu apa sih itu Teknik Frame?
Gampangnya begini gaes. Satu ide konten yang sama bisa kamu tampilkan dengan cara atau media yang berbeda-beda. Misalnya:
- Tulisan tangan di kertas
- Coretan di telapak tangan
- Pesan di papan tulis
- Tulisan di kaca jendela
- Kalimat di spanduk
- Bahkan tulisan di tisu makan!
Semua media itu jadi bingkai atau frame yang berbeda, padahal isinya sama. Dan ternyata, netizen nggak bosan. Justru karena tampilannya beda, meski pesan utamanya itu-itu aja, orang tetap tertarik dan merasa seperti melihat sesuatu yang baru.
Misalnya ada konten soal 1 Kebaikan Mama Mertua. Salah satu contoh sukses dari Teknik Frame DEBM ini adalah konten kami yang berjudul 1 Kebaikan Mama Mertua. Ini udah kami unggah berkali-kali, tapi setiap kali pakai frame yang beda hasilnya tetap ramai. Bahkan beberapa kali berhasil viral dan dibahas ulang oleh follower di kolom komentar.
Kenapa teknik frame dalam sebuah konten bisa sepenting begitu? Ya karena visual itu penting. Orang cenderung akan berhenti scroll kalau ada sesuatu yang mencolok, berbeda, atau bikin penasaran.
Buat memulainya pasti cari ide yang relate. Bisa dari keresahan, nostalgia, kebiasaan sehari-hari, atau pengalaman unik. Lalu buat versi pertamanya di media apa saja. Kertas? Tisu? Telapak tangan? Bebas! Yang penting tulisannya jelas dan mudah dibaca.
Kemudian ulangi ide yang sama, tapi ubah medianya. Misal hari ini pakai kertas, minggu depan coba versi papan tulis, bulan depan pakai spanduk mini.
Ini yang penting banget perhatikan respon audiens. Lihat mana yang paling menarik perhatian, dan terus eksplor dari situ.