5 Stasiun Kereta Api di Jawa Timur yang Viral

Siapa sangka bahwa Jawa Timur, salah satu provinsi paling dinamis di Indonesia, menyimpan deretan stasiun kereta api yang bukan hanya fungsional tapi juga menawan secara arsitektur dan sejarahnya.

DEBM pernah mengunjungi 5 stasiun di Jawa Timur yang keberadaannya viral. Provinsi ini memang dikenal dengan jaringan perkeretaapian yang luas dan membentang dari barat hingga ujung timur pulau Jawa. Dan semua itu bukan terjadi secara kebetulan, tapi merupakan warisan panjang dari masa kolonial yang masih berdampak hingga kini.

Perjalanan kereta api di Jawa Timur dimulai sejak akhir abad ke-19, ketika Hindia Belanda melalui perusahaan negara mereka, Staatsspoorwegen (SS), membangun jalur-jalur kereta api untuk menunjang transportasi hasil bumi dari wilayah pedalaman ke pelabuhan.

Salah satu jalur tertua adalah Surabaya – Pasuruanyang resmi beroperasi pada tahun 1878. Keberadaan rel ini menjadi titik awal berkembangnya stasiun-stasiun yang kini tidak hanya menjadi pusat transportasi, tetapi juga ikon kota dengan nilai historis yang tinggi.

Yuk, kita eksplorasi beberapa stasiun yang layak masuk bucket list bagi pencinta sejarah dan pecinta perjalanan kereta api yang pernah dijelajahi DEBM di Jawa Timur.

  • Stasiun Tulungagung

Terletak strategis di jantung Kabupaten Tulungagung, Stasiun Tulungagung adalah stasiun tipe C yang cukup sibuk dan modern. Dengan ketinggian sekitar +85 mdpl, stasiun ini berada dekat dengan Alun-Alun dan kantor pemerintahan setempat, membuatnya sangat mudah diakses oleh warga.

Dulu, stasiun ini memiliki lima jalur aktif, namun kini hanya tersisa tiga. Jalur 1 berfungsi sebagai sepur lurus, sedangkan jalur 4 dan 5 yang dulunya digunakan untuk bongkar muat barang, telah dinonaktifkan sejak tahun 1995.

Saat ini, Stasiun Tulungagung melayani berbagai kereta penumpang, mulai dari kereta jarak jauh hingga komuter, seperti KA Dhoho yang menghubungkan Tulungagung dengan Blitar, Kertosono, dan Surabaya. Cocok banget buat kamu yang mau menikmati perjalanan santai tanpa stres!

  • Stasiun Kediri

Beranjak ke barat sedikit, kita sampai di Stasiun Kediri, salah satu stasiun besar di jalur tengah Jawa Timur. Dengan ketinggian +68 mdpl, stasiun ini berada hanya beberapa ratus meter dari Jalan Dhoho, pusat ekonomi dan perdagangan di kota Kediri.

Letaknya yang dekat dengan kawasan kuliner dan sentra oleh-oleh menjadikan stasiun ini salah satu yang paling ramai di kawasan selatan Jawa Timur.

  • Stasiun Ketapang: Gerbang Jawa Menuju Bali

Kalau kamu ingin merasakan nuansa antarpulau, Stasiun Ketapang adalah tempat yang wajib kamu datangi. Berada di Ketapang, Banyuwangi, stasiun ini merupakan yang paling timur di Pulau Jawa, dan hanya berjarak sekitar 100 meter dari Pelabuhan Feri Ketapang yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali.

Stasiun ini terletak di atas ketinggian +7 mdpl, termasuk dalam Daop IX Jember, dan melayani berbagai rute jarak jauh ke kota-kota besar seperti Yogyakarta, Surabaya, hingga Jakarta.

Beberapa kereta yang berhenti di sini antara lain KA Mutiara Timur, KA Sri Tanjung, dan KA Probowangi — pilihan sempurna buat kamu yang ingin menjelajah dari ujung ke ujung pulau.

  • Stasiun Kalibaru

Terletak di antara hijaunya perbukitan dan Gunung Gumitir, Stasiun Kalibaru menawarkan pesona yang berbeda. Dengan ketinggian mencapai +428 mdpl, stasiun ini termasuk yang tertinggi di Jawa Timur, dan punya latar pemandangan alam yang luar biasa indah.

Stasiun ini menjadi titik singgah semua kereta penumpang yang melintasi jalur barat Banyuwangi. Fasilitasnya cukup lengkap, dengan akses mudah ke pasar, tempat makan, hingga penginapan di sekitarnya. Jalur utama di sini adalah jalur 2, yang berfungsi sebagai sepur lurus.

  • Stasiun Bondowoso: Kini Menjadi Museum Penuh Makna

Terakhir tapi tak kalah penting, ada Stasiun Bondowoso, yang kini telah berubah fungsi menjadi Museum Kereta Api Bondowoso. Stasiun ini awalnya diresmikan pada 1 Oktober 1897, dan dulunya melayani rute Jember – Panarukan.

Namun sejak jalurnya ditutup tahun 2004, bangunan bersejarah ini beralih fungsi menjadi museum sejak 17 Agustus 2016. Selain menampilkan koleksi tentang sejarah kereta api, tempat ini juga menyimpan kenangan kelam peristiwa Gerbong Maut (1947), ketika puluhan tahanan meninggal dalam perjalanan akibat kondisi gerbong yang tidak manusiawi.

Museum ini bukan hanya edukatif, tapi juga reflektif. Mengajak kita merenungkan bahwa rel kereta api tak hanya menjadi jalur besi, tapi juga jalan panjang sejarah bangsa.

Leave a Reply