Perjalanan Singkat di Kota Mutiara Priangan Timur, Tasikmalaya

Tasikmalaya memang dikenal sebagai mutiara priangan timur, hal tersebutlah yang membawa langkah kaki saya tertuju di kota tersebut.

Ramah dan nyaman, itulah kesan pertama ketika saya mengunjungi Kota Tasikmalaya.

Walau saya bukan orang pribumi, namun warga Tasikmalaya sangat hangat dan ramah, kemanapun saya pergi warga disana tak henti menyapa dan memberikan senyuman.

Selain warganya ramah dan hangat, saat saya mengunjungi Tasikmalaya kotanya sangat damai, tidak berisik oleh kendaraan dan ramah bagi pejalan kaki.

Hari pertama saya habiskan untuk berjalan-jalan di pasar Cikurubuk Tasikmalaya.

Saya sempatkan untuk menikmati makanan khas orang Tasik yaitu nasi TO (tutug oncom).

Sebenarnya tak asing bagi saya dengan nasi TO, namun tetap saja lebih nikmat ketika saya mencicipinya langsung disana.

Kesan pertama yang saya rasakan saat menikmati nasi TO di kota asalnya sangat melekat, rasanya yang nikmat dan berbeda dari nasi TO yang pernah saya cicipi sebelumnya.

Rasa wangi oncom yang disandingkan dengan nasi panas membuat rasanya luar biasa.

Sebagai teman menikmati nasi TO saya memesan ayam goreng, tempe mendoan, sambal tomat dan tentunya jengkol dan ikan asin.

Terlihat sederhana, namun menikmati nasi TO di kota asalnya memang berbeda.

Saat perut sudah kenyang menikmati nasi TO, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke lapangan Dadaha.

Lapangan Dadaha di Tasikmalaya merupakan sport center bagi warga Tasik.

Selain tempat berolahraga, di lapangan Dadaha pun banyak sekali pedagang yang menjajakan makanan.

Sesuai masukan warga lokal disana, saya akhirnya mencoba jajanan favoritnya warga Tasikmalaya yaitu makroni.

Sepintas saya merasa tak ada yang istimewa dengan makroni, namun setelah saya membelinya barulah saya mengerti mengapa warga Tasikmalaya suka jajanan ini.

Ya, makroni di lapangan Dadaha ini dijual dalam kemasan seharga 5-10 ribu rupiah, makanan ini digoreng dan diberi bumbu gurih dan pedas yang membuatnya menjadi istimewa.

Selain karena murah, makroni ini juga enak dan gurih sehingga menjadi cemilan favorit orang Tasik.

Setelah menikmatai makroni, saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke daerah kabupaten Tasikmalaya tepatnya di Singaparna.

Tentu saja saat ke Singaparna pertama kali makanan yang saya coba adalah kupat tahu.

Siapa tak mengenal kupat tahu asal Singaparna ini, Bahkan di luar daerah pun kupat tahu ini sangat terkenal.

Mencicipi kupat tahu Singaparna membuat saya mengingat masa kecil dahulu, rasanya sulit diungkapkan karena hanya membangkitkan kenangan.

Puas menikmati kupat tahu Singaparna, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi kampung adat disana, yaitu Kampung Naga.

Kampung Naga terkenal sebagai kampung adat sunda yang letaknya berada di Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Namun sayang sekali saat saya mengunjungi Kampung Naga, pada saat itu saya tidak bisa masuk ke kampung adatnya dikarenakan hari sudah menjelang sore menuju malam.

Walaupun di Tasikmalaya hanya sebentar, namun rasa ingin kembali kesana sangat kuat.

Pengalaman saya mengunjungi Tasikmalaya sungguh berkesan dan tak terlupakan.

Lain – lain

Leave a Reply