
Halo semuanya, perjalanan saya menuju ke wonosobo sangatlah berkesan karena memang wonosobo adalah salah satu kota yang sangat ingin saya kunjungi dari sejak dulu karena keindahan kota nya.
Perjalanan menuju Wonosobo dari Bandung menempuh waktu kurang lebih 9 jam karena saya memilih untuk tidak menggunakan tol, perjalanan kita mulai dengan menggunakan mobil melewati Cileunyi, Malangbong, Tasik, Ciamis, Banjar.

Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di Banjar atas untuk sekedar mengisi perut juga melaksanakan sholat, setelah selesai saya melanjutkan kembali perjalanan melewati Majenang, Purwokerto.

nah di Purwokerto saya berhenti untuk memotret salah satu sungai yaitu Sungai Serayu yang membentang sepanjang 181 kilometer dan melintasi lima kabupaten, yaitu Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Tidak terasa perjalanan sudah dilewati dengan panjang hingga akhirnya sampai lah saya di Banjarnegara pukul 20.00

nah ternyata perjalanan dari Banjarnegara ke Wonosobo itu memakan waktu kurang lebih satu jam dan sampailah saya di Wonosobo pukul 21.00 dan saya memutuskan untuk langsung beristirahat.

Hari pertama saya di Wonosobo saya dibuat takjub dengan pemandangan yang sangat indah dan asri di pagi hari. Di hari pertama ini saya memutuskan untuk mengunjungi pusat kota Wonosobo , disana saya akan menerbangkan corong merah di Alun-alun wonosobo juga Masjid agung yang kebetulan berdekatan disana juga beberapa icon-icon kota yang lain.

Dijalan menuju ke pusat kota Wonosobo saya melewati salah satu mata air terkemuka di Wonosobo.
Sampailah saya di Alun-alun Wonosobo, kebetulan keadaan disana sedang sangat ramai, disana mulailah kita menerbangkan corong merah dengan menggunakan drone, banyak sekali warga sekitar yang penasaran dan sesekali ada juga yang bertanya, namun saat sedang menerbangkan drone tiba-tiba cuaca mulai hujan dan memutuskan untuk berhenti sejenak. Setelah dirasa sudah reda kita melanjutkan kembali untuk menerbangkan drone.
Terasa sudah mulai lapar saya memutuskan untuk mencari makan dan ada beberapa rekomendasi dari warga Wonosobo yaitu Mie ongklok. Saya memutuskan untuk mengunjungi Mie ongklok terdekat dan juga sangat terkenal di Wonosobo yaitu Mie ongklok Longkrang yang kebetulan tidak jauh dari alun-alun Wonosobo.

Saat datang ke tempat Mie ongklok ini kita disambut dengan sangat baik, pelayanan nya juga sangat ramah, disini saya memesan beberapa porsi. Mie ongklok ini terbuat dari mie rebus, kol, daun kucai, dan kuah kental. Mie ini memiliki rasa yang khas dan unik biasanya Mie ongklok ini disajikan dengan tambahan sate ayam atau sate sapi , wah memang tidak salah yaa rekomendasi dari warga wonosobo ini.

Setelah sudah kenyang mengisi perut, saya melanjutkan perjalanan ke Rita Pasaraya tempat ini adalah tempat belanja warga wonosobo sangat kumplit juga ramai sekali warga yang berbelanja disana.

Hari sudah mulai malam dan ternyata disini turun hujan kembali , akhirnya saya memutuskan untuk pulang dan melanjutkan di besok pagi karena hujan tidak kunjung reda.

Hari kedua cuaca pagi ini sedikit hujan ,sebelum memulai perjalanan saya mencari sarapan. Dan saya memutuskan untuk sarapan di Lontong Tetel. Ketika saya masuk kesana ternyata sangat ramai pengunjung kita langsung disambut baik bahkan diperbolehkan untuk melihat proses pembuatan nya langsung di dalam.

Disana saya memesan beberapa menu yang berbeda, saat saya coba enak sekali kuah nya. Lontong Tetel ini memiliki variasi menu dengan cita rasa segar yang dikombinasikan dengan kuah santan kental yang kaya akan rempah. berbeda dengan kebanyakan lontong yang identik dengan suwir dan daging, Lontong Tetel ini menggunakan isian yang berupa tetelan kambing dan disajikan dengan kuah santan oseng pedas.

Setelah selesai sarapan saya melanjutkan perjalanan untuk mencari tugu carica purwacang, di tengah perjalanan saya melewati terminal mendolo saya mampir sebentar untuk melihat ternyata sangat luas di dalamnya.Lalu melanjutkan perjalanan.

Akhirnya setelah mencari-cari dan sempat salah jalan saya menemukan juga tugu carica dan purwacang yang memang terletak ditengah jalan juga tertutupi oleh pepohonan.

Saya melanjutkan kembali perjalanan untuk mencari makanan khas Wonosobo yaitu Sagon. Sampailah saya di Pasar Wonosobo , disana saya langsung mengelilingi pasar dan bertemu lah saya dengan mbah Rukoyah penjual Sagon di pasar wonosobo disitu saya langsung membeli beberapa Sagon dan melihat cara pembuatan nya. Saya mencoba sagon yang baru saja selesai dimasak , sewaktu saya coba ternyata kue sagon ini sangat enak rasanya manis dan gurih ditambah dengan campuran kelapa yang membuat rasa semakin enak.
Tak terasa waktu sudah mulai siang, saya melanjutkan perjalanan untuk mencari makan siang dan ada beberapa rekomendasi dari warga Wonosobo yaitu nasi megono, langsung saja saya mencari dan saya menemukan salah satu warung nasi megono yang sangat ramai yaitu nasi megono bu Wal.

Nasi megono merupakan nasi rames ikonik berupa nangka muda cincang yang dipadu dengan kecombrang dan kelapa parut.Nasi megono ini sangatlah unik karena rasa nya yang berbeda ada rasa yang baru saya coba. Nasi ini disajikan dengan tempe kemul yang masih hangat juga telur enak banget.

setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke salah satu foodcourt di Wonosobo yang selalu ramai dikunjungi, terletak di depan alun-alun Wonosobo saat saya mampir sebentar dan melihat kedalam ternyata memang ramai.

Ketika ingin melanjutkan perjalanan, ternyata hujan turun kembali saya memutuskan untuk menunggu hingga mereda.

Setelah menunggu ternyata hujan tak kunjung reda akhirnya saya memutuskan mencari makan malam sebelum kembali ke penginapan, saya menemukan tempat bakso yang sangat ramai dikunjungi di Wonosobo yaitu Bakso H. Manaf.
Lalu setelah lelah seharian, saya memutuskan untuk kembali dan istirahat.

Hari ketiga, ini merupakan hari terakhir saya di Wonosobo. Di pagi hari ini saya memutuskan untuk pergi ke kebun salak milik salah satu saudara yang ada di Wonosobo. Dan ini dia jalan menuju ke kebun salak terlihat sangat terjal juga sepi karena memang dikelilingi oleh kebun-kebun salak.

Perjalanan menuju kebun salak ini tidak langsung bisa diakses dengan menggunakan mobil, jadi saya harus turun untuk menjelajahi kebun salak dengan berjalan kaki , ketika saya masuk kedalam kebun banyak sekali salak-salak karena sedang musim panen, nah ternyata begini yaa perkebunan salak saya juga baru melihat seperti ini ternyata pohon salak.

Melanjutkan perjalanan kembali, setelah melihat perkebunan salak saya mampir sebentar ke Mangli, Mangli merupakan kolam Renang yang memiliki air asli dari sumber air pegunungan yang segar. Sumber air mangli pun menjadi pemasok utama kebutuhan air minum produk air kemasan yang sudah terkenal di Indonesia.

Nah setelah itu saya bergegas menuju salah satu pasar di Wonosobo disana saya menemukan buah khas dari Wonosobo yaitu Carica. Carica adalah buah khas Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng. Buah carica berwarna kuning dengan bentuk mirip pepaya, sehingga sebagian orang menyebut carica sebagai pepaya dieng atau pepaya gunung.

Disana saya juga menemukan kentang dieng. Salah satu jenis kentang yang sangat unik dan populer di Indonesia kentang Dieng merupakan salah satu varietas kentang yang memiliki keunikan tersendiri. Ditanam di dataran tinggi Dieng, sebuah dataran tinggi yang terletak di Kabupaten Wonosobo.

Setelah seharian saya menjelajahi pasar , saya memutuskan untuk mencari makan dan setelah mencari beberapa lama saya mampir ke salah satu tempat Bubur candil yang sangat ramai sekali pembeli di Wonosobo, yaitu Bubur candil Akmalia, warung ini sangat legendaris. Sejak 1963, warung bubur candil ini sudah jualan. Dan bertahan hingga sekarang. Bubur candil Akmalia sebenarnya penganan sangat sederhana. Disajikan di mangkuk kecil. Isinya jenang sumsum dan candil yang diberi santan dan gula jawa yang dicairkan. Harganya sangat ekonomis: Rp 5 ribu per mangkuk.

Karena belum makan nasi akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Warung Entok Bu Siti. Warung Entok Bu Siti bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi juga tempat di mana tradisi kuliner Jawa Tengah dilestarikan. Dengan tetap mempertahankan cara memasak tradisional, warung ini menawarkan lalapan daun singkong sebagai pendamping utama entok. Daun singkong yang disajikan fresh setiap hari memberikan rasa yang segar dan cocok dipadukan dengan sambal hijau yang pedas.
Menutup hari terakhir disini, saya ingin sekali mencoba lagi nasi megono karena menurut saya nasi ini memiliki rasa yang unik apalagi dimakan selagi hangat, saya sudah berfikir bahwa nasi ini hanya dijual di pagi hari namun ternyata di malam hari pun ada, tanpa berfikir panjang saya pun langsung memesan beberapa porsi nasi megono.

Selesai sudah perjalanan saya di Wonosobo ini, karena sudah lelah seharian berkeliling saya memutuskan untuk pulang di keesokan harinya.

Sampai jumpa kembali Wonosobo. Perjalanan selama tiga hari ini sangatlah berkesan, selain kota nya yang sangat indah dan asri, warga-warga disana sangatlah ramah yang membuat saya semakin betah selama disana. Masih banyak yang belum saya kunjungi selama disana, semoga secepatnya saya bisa kembali lagi ke Wonosobo dan mengunjungi lebih banyak tempat disana yang tentunya sangat indah.

Terimakasih banyak Wonosobo, sampai jumpa kembali.