
Majalengka, kota yang dikenal dengan julukan “Kota Angin,” menjadi tujuan wisata saya kali ini.
Perjalanan dimulai dari Bandung, menggunakan mobil pribadi. Dengan jarak sekitar 90 kilometer, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam.
Di perjalanan menuju Majalengka tidak lupa saya mendokumentasikan perjalanan untuk kenang-kenangan nanti.
Dari Bandung saya menggunakan mobil pribadi melalui jalur tol Soreang dan keluar dari tol Kertajati.
Untuk harga tol Soreang-Kertajati saya membayar sebesar 94.500, dan tol dalam kota di Kertajati sebesar 7rb rupiah.
Setelah keluar dari tol Kertajati, saya mampir di Bandara kebanggan orang Majalengka yaitu Bandara Kertajati.
Saat tiba di Bandara Kertajati, kesan pertama yang saya dapatkan adalah sepi, ya Bandara tersebut sangat sepi tidak seperti Bandara lainnya.
Disana saya muai melihat-lihat disekeliling dan mendokumentasikan beberapa foto sebagai kenanga-kenangan.
Setelai selesai mengunjungi Bandara Kertajati, saya melanjutkan perjalanan menuju Kota Majalengka.
Karena perut mulai keroncongan, saya mulai mencari rekomendasi bakso viral di Majalengka.
Sesuai rekomendasi, akhirnya saya mampir untuk makan baksi di kedai bakso Mpok Atiek Sibed.
Ternyata kedai bakso ini menyuguhkan bakso prasmanan dan mematok harga 25rb bisa ambil sepuasnya.
Tentu saja tidak mau kesempatan ini hilang saya langsung mengambil banyak bakso di kedai tersebut.
Setelah pesanan datang saya beserta rombongan mulai menikmati rasa bakso tersebut.
Tak salah rekomendasi warga Majalengka, rasa bakso Mpok Atiek Sibed sangat enak dan menggugah selera.
Tidak hanya memesan bakso, saya pun mencicipi alpukat kocok, es jeruk di kedai tersebut.
Setelah perut terisi kenyang, saya melanjutkan perjalanan untuk mencari hotel di wilayah Majalengka kota yang tidak jauh dari alun-alun dan pusat keramaian.
Akhirnya saya mendapatkan hotel di dekat Universitas Majalengka dan di belakang GGM.
Setelah saya mendapatkan hotel, saya beristirahat sebentar di hotel untuk membersihkan diri dan melanjutkan jalan-jalan saya di kota angin tersebut.
Meski cuaca Majalengka cukup panas, keramahan warganya membuat suasana terasa menyenangkan dan hangat.
Akhirnya saya memutuskan untuk main ke Alun-alun Majalengka.
Alun-alun ini menjadi pusat keramaian kota, dikelilingi taman yang asri dan suasana yang menenangkan.
Tidak jauh dari situ, berdiri megah Masjid Agung Majalengka, tempat ibadah yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Setelah puas menikmati suasana alun-alun, saya mencoba berbagai makanan khas Majalengka yaitu jalakotek.
Jalakotek ternyata jika di Bandung tekstur dan bentuknya sangat mirip dengan cireng isi, namun isiannya disini yang terkenal adalah tahu.
Saat itu saya membeli jalakotek Asep yang memang terkenal dan viral di Majalengka.
Kemudian setelah puas menikmati jalakotek Asep, saya melanjutkan perjalanan untuk mencicipi nasi khas Majalengka yaitu nasi lengko.
Nasi lengko yang direkomendasikan adalah nasi lengko Haji Kanti yang legend dan sudah lama berdiri.
Saat mencicipinya, nasi lengko seperti tidak asing bagi lidah Bandung saya, dan ternyata nasi tersebut adalah nasi campur yang memiliki isian, tempe goreng, tahu goreng, toge, irisan timun, telur dan bisa tambah toping ayam atau daging, kemudian di beri kecap dan taburan emping serta bawang goreng.
Mungkin kalau di Bandung saya menyebutnya nasi kecap, namun saat menikmatinya rasanya lidah tak berhenti menikmati rasanya itu.
Puas menikmati nasi lengko Haji Kanti, kemudian saya mulai merasa kenyang dan berjalan-jalan santai disekitar hotel dengan menikmati suasana Majalengka yang panas namun syahdu.
Kemudian esok harinya pada pagi hari saya mencoba kembali main ke alun-alun Majalengka dan kemudian sarapan disana.
Saya kembali memilih nasi lengko dan ketoprak untuk sarapan di Majalengka, setelah itu saya mengunjungi pasar Kadipaten kemudian berbelanja sayuran dan cemilan khas disana.
Pada saat di pasar saya membeli hampas, katel, keripik oncom, buah mangga gedong yang dikemas dengan anyaman bambu, dage, dan gula cakar.
Karena lelah berjalan di pasar, akhirnya saya kembali memutuskan untuk makan kembali di dekat pasar Kadipaten.
Lagi-lagi saya makan nasi lengko khas Majalengka di kota angin tersebut,
Setelah puas menikmati nasi lengko di Pasar Kadipaten, saya kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, kemudian kembali jalan-jalan pada sore harinya.
Pada saat itu saya memutuskan untuk makan kembali di sangu akeul cigaleuh, karena menurut rekomendasi, rumah makan tersebut menjual makanan cita rasa Majalengka asli.
Ketika sampai di sangu akeul cigaleuh, kondisinya sangat ramai, sampai-sampai saya harus waiting list untuk makan di tempat makan tersebut.
Saat sudah bisa memesan, saya disana memesan makanan khas Majalengka, seperti pencok katel, hampas, oncom, cobek ikan dan juga tak lupa es teh gula cakar.
Kesan pertama saya menikmatai pencok katel adalah sangat enak dan pedas, namun tentu nikmat di makan.
Selanjutnya setelah selesai dari rumah makan sangu cigaleuh, saya melanjutkan jalan-jalan disekitar Universitas Majalengka dan menikmati cemilan jalakotek kembali disana.
Hari Ketiga sekaligus hari terakhir di Majalengka, saya memutuskan untuk kembali jalan-jalan di sekitar kota Majalengka, saat itu saya memutuskan untuk menikmati nasi timbel al-fajar.
Dengan cita rasa sunda, saya memesan beberapa timbel nasi, ayam goreng, tahu, tempe, sate jeroan ayam, dan juga sayur asem.
Rasanya seperti nasi timbel lainnya, sangat enak dan memuaskan lidah saya.
Karena masih siang, saya memutuskan untuk mengambil pemandangan kota Majalengka dengan drone.
Titik pengambilan drone di mulai dari alun-alun Majalengka, mesjid agung Majalengka, bundaran bola dunia Majalengka, Taman Sejarah Majalengka, jalan utama Majalengka, dan terakhir menuju Situ Cipanten.
Setelah selesai mengambil pemandangan kota Majalengka dengan drone, saya meneruskan untuk mengambil pemandangan di Situ Cipanten dengan menggunakan drone.
Ternyata letak Situ Cipanten dan alun-alun Majalengka cukup jauh, dan memerlukan waktu sekitar 45 menit dari tempat saya.
Kemudian setelah sampai Situ Cipanten, saya beserta tim langsung mengambil pemandangan di Situ Cipanten.
Setelah selesai mengambil foto pemandangan Kota Majalengka dengan drone, saya memutuskan untuk lanjut makan malam.
Pilihan saya saat itu menikmati nasi goreng yang ada di Majalengka, selain nasi goreng, saya pun mencicipi makanan lainnya seperti pukis, kacang rebus dan juga wedang jahe.
Kenyang menikmati nasi goreng dan juga cemilan lainnya, saya kembali ke hotel untuk berisitirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Kuningan di esok hari.
Begitulah perjalanan singkat saya di Majalengka, semoga bisa kembali lagi ke Kota Angin ini.
Berikut adalah daftar kuliner yang saya nikmati:
- Lengko Haji Kanti – Nasi yang disajikan dengan tahu, tempe, sayuran segar, dan siraman bumbu kacang.
- Lengko alun-alun Majajalengka
- Lengko di Pasar Kadipaten
- Kue Pukis dekan SMPN 4 Majalengka
- Pencok Katel Sangu Akeul Cigaleuh– Hidangan khas berbahan dasar daun kacang kedelai yang diolah dengan bumbu pedas.
- Jalakotek Asep– Camilan gurih berbahan dasar aci dengan isian lezat.
- Bakso Mpok Atiek Sibed – Bakso kenyal dengan kuah gurih yang menggugah selera.
- Nasi Timbel Al-Fajar – Nasi yang dibungkus daun pisang dengan lauk-pauk tradisional.
- Gula Cakar – Gula merah khas Majalengka yang berbentuk unik.
- Sangu Akeul Cigaleuh – Nasi yang diolah dengan tradisional, dengan aneka teman nasi khas Majalengka.
- Mangga Gedong – Buah mangga lokal yang manis dan segar.
- Hampas Tahu – Olahan dari hampas tahu
- Keripik Melinjo – Camilan renyah dengan rasa yang khas.
- Rolade Ayam – Rolade berbahan dasar ayam yang lezat.
- Nasi Goreng Alfa
- Ducok-pucuk GGM