
Dulu tiap main ke Ciwidey pasti selalu jadi hari yang sangat dinantikan, soalnya siapa sih yang ga suka main ke kebun teh?
Udaranya yang sejuk, dingin ditambah pemandangan yang memanjakan mata. Pasti kebanyakan orang main ke Ciwidey untuk sekedar melepas penat dari rutinitas sehari-hari atau liburan bersama keluarga.
Kali ini perjalananku dari Bandung ke Ciwidey kurang lebih menempuh 2 jam tepatnya di hari Minggu.
Masuk kawasan Ciwidey pasti kita akan di sambut dengan Alun-alun Ciwidey, tapi sayangnya saat aku mampir kesini Alun-alun nya sedang di tahap renovasi.
Tapi tetap di hari Minggu pasar tumpah selalu ada, banyak warga yang berbondong-bondong datang kesini hanya untuk sekedar belanja, kulineran bahkan mengajak anak mereka untuk bermain disini.
Disebelah Alun-alun juga ada Masjid Agung Ciwidey yang cukup luas untuk para jemaah beribadah. Letaknya juga memang strategis, berada di jalur lintasan wisata Ciwidey-Kawah Putih.
Lanjut aku juga mampir ke kawasan Pasar Ciwidey nya yang lokasi nya juga ada di pinggir jalan, tapi berhubung aku datang nya sudah agak siang jadi sayangnya sudah tidak terlalu ramai. Namun masih ada beberapa pedagang juga para warga yang berlalu lalang di pasar ini.
Tidak jauh dari sini, masih di kawasan Pasar Ciwidey juga ada Terminal Ciwidey yang terdapat banyak angkot dengan berbagai jurusan.
Mulai dari Ciwidey-Bandung, Ciwidey-Soreang hingga Ciwidey-Patenggang yang hampir keseluruhan angkot sudah ada penumpang nya.
Kita lanjut perjalanan kembali dan tibalah di Jembatan Kereta Api Ranca Goong.
Jembatan peninggalan Belanda ini dijadikan warga penghubung antar desa yang bisa mempersingkat waktu dan merupakan jalur penghubung antara Soreang dengan Ciwidey.
Untuk yang punya phobia ketinggian sepertiku memang wajib berhati-hati saat melewati jembatan ini.
Karena jembatan yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki, sepeda dan motor ini memiliki ketinggian puluhan meter serta tidak ada pembatas di sisi jembatan nya dan langsung menembus jurang.
Menurut warga sekitar, jembatan yang dibangun pada tahun 1923 ini jaman dulu menjadi rute angkutan perkebunan berskala besar seperti komoditas teh, kopi dan kina.
Dengan pemandangan yang sangat indah di sekeliling jembatan, terhampar pemandangan persawahan terasering yang hijau.
Di sela-selanya juga terdapat aliran Sungai Ciwidey dengan bebatuan besar dan air yang mengalir deras, jembatan ini memang cocok dijadikan sebagai objek foto.
Lanjut perjalanan sudah memasuki kawasan Rancabali yang udaranya dingin serta banyak pepohonan menjulang tinggi, makin yakin sebentar lagi sampai di kebun teh.
Aku juga mampir sebentar ke tempat wisata andalan Ciwidey yaitu Situ Patenggang. Kalau weekend sih udah pasti selalu rame sama wisatawan yang berkunjung untuk melihat keindahan Situ Patenggang yang terkenal di Ciwidey.
Waktu melanjutkan perjalanan tiba-tiba hujan deras mengguyur Ciwidey, jadi aku putuskan untuk berteduh sambil makan bakso di kawasan kebun teh Rancabali.
Setelah perut kenyang, akhirnya kita putuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke kawasan kebun teh Cibuni.
Sejenak menikmati keindahan kebun teh Cibuni ditemani dengan kabut yang menutupi pemandangan juga udara yang dingin cukup membuat badan ini kedinginan walaupun sudah memakai jaket tebal.
Tapi sepertinya langit tidak memihak kepadaku karena hujan kembali turun membasahi dedaunan teh.
Alhasil kita kembali berteduh di warung kopi pinggir kebun teh sambil menikmati secangkir kopi panas, nikmatnya semangkuk mie kuah dengan telur dan dingin nya Cibuni. Benar-benar perpaduan yang pas sekali.
Tak lengkap rasanya jika ke kebun teh tidak berswafoto, apalagi dengan pemandangan yang sangat indah juga ada sisa-sisa air hujan yang menetes di dedaunan teh, sungguh pemandangan yang jangan sampai tidak di abadikan.
Tak lupa aku juga mengajak corong merah untuk ku foto supaya ada kenang-kenangan bahwa corong merah pernah main ke kebun teh di Rancabali, Ciwidey.
Setelah selesai istirahat sembari mengisi perut, tapi berhubung kabut terlalu tebal menutupi hampir keseluruhan wilayah kebun teh dan hujan pun masih gerimis, akhirnya ku putuskan untuk turun sembari mencari tempat berteduh.
Sepanjang perjalanan hujan turun makin deras, akhirnya sambil berteduh tibalah aku di Rumah Makan Pawon Bu Sri Ciwidey. Sambil mengisi daya baterai handphone yang sudah habis, akupun memesan beberapa menu yang tampak menggugah selera.
Karena tadi kehujanan jadilah perut kembali berteriak minta di isi, benar kata orang-orang belum makan kalau belum makan nasi. Dan memang menu disini semuanya enak-enak, terutama oseng cumi dan sambal nya juara.
Setelah memastikan perut benar-benar kenyang, akhirnya kita putuskan untuk turun kembali ke kawasan Ciwidey bawah sembari membeli sedikit buah strawberry di pinggir jalan sebagai buah tangan untuk orang rumah.
Tapi sebelum benar-benar pulang aku mampir dulu untuk mencicipi kopi khas Ciwidey yang katanya di panen langsung oleh petani kopi disana. Rasanya enak dan harganya juga terjangkau.
Aku juga melihat langsung bagaimana proses penggilingan dari biji kopi yang diubah menjadi bubuk kopi. Ada berbagai macam jenis kopi disini, aku beli varian arabica yang cukup diminati banyak para penggemar kopi.
Perjalanan ku ke Ciwidey ditutup dengan ngopi disini, berhubung hari sudah sangat sore dan hujan belum juga berhenti aku putuskan untuk pulang.
Terima kasih banyak Ciwidey, segala sesuatu tentangmu tidak akan pernah terlupakan. Semoga lain waktu bisa kembali lagi, karena mungkin masih ada tempat atau kuliner yang belum sempat aku kunjungi.